Membaca al-Fatihah hukumnya wajib di semua shalat. Wajib dibaca oleh imam, makmum maupun munfarid (shalat sendirian) di semua rakaat. Dasarnya adalah hadits yang menjelaskan bahwa ketika Rasulullah mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan pada setiap rakaat shalat, beliau bersabda, "Kemudian lakukan itu semua pada (gerakan) shalatmu semuanya." HR. Bukhari dan Muslim.
Al-Fatihah adalah bacaan shalat yang amat dahsyat; sangat istimewa. Allah menjawab setiap ayat al-Fatihah yang dibaca hambaNya. Allah berfirman dalam hadit qudsi: Shalat itu Kubagi dua antara Aku dan hambaku. Untuk hambaku ialah apa yang dimintanya.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Membaca basmalah hukumnya wajib, karena basmalah merupakan bagian dari surat al-Fatihah. Ketika seorang dalam shalat mengucapkan bismillaahirrahmanirrahim, maka Allah berfirman, “Hamba Ku mengingatku”. HR. Muslim. Apabila ia mengucapkan alhamdulillahi rabbil alamin, Aku menjawab, "Hambaku memujiku". Apabila ia mengucapkan arrahmaanirrahiim, maka Aku menjawab. "Hambaku menyanjungKu." Apabila ia mengucapkan maaliki yaumiddiin, maka Aku menjawab, "Hambaku mengagungkan-Ku." Apabila ia mengucapkan iyyaka nabudu waiyyaaka nas-taiin, maka Aku menjawab, "Inilah bagianKu dan bagian hamba-Ku, dan untuk hambaku apa yang dimintanya". Apabila ia mengucapkan ihdinashirratal mustaqim, shiratalladzina an'anta alaihim ghairil maghduubi alaihim waladhaalin, maka Aku menjawab, "Inilah bagian hambaku, dan untuk hambaku apa yang dimintanya." HR Muslim.
Sungguh luar biasa, ternyata Allah langsung menjawab bacaan Al-Fatihah. Terungkap sudah rahasianya, mengapa Rasulullah membaca Al-Fatihah ayat demi ayat (tidak menyam-bungnya), sebagaimana dinyatakan dalam hadis: Kemudian beliau membaca Al-Fatihah, beliau memenggalnya ayat demi ayat. HR. Abu Dawud.
اَلْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
Ketika Engkau mengucapkan alhamdulillahi rabbil alamin, maka Engkau akan menemukan bahwa kalimat ini menetapkan kesempurnaan sifat dan nama-nama Allah. MembersihkanNya dari segala kekurangan. Semua kehendak Allah adalah hikmah, maslahah dan keadilan bagi hambaNya. (Asraru Shalat hl. 12).
Dalam ayat ini terdapat dua nama agung: Allah dan Rab. Menyebut nama Allah berarti bersaksi bahwa tidak Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Karena semua makhluk tunduk padaNya. Allahlah yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Dan Allah pula yang mengutus para rasul, menurunkan kitab suci dan yang membuat syariat. Menyebut nama Rab berarti bersaksi bahwa Allah adalah Dzat yang berdiri sendiri dan melakukan segala sesuatunya. Dialah yang mengawasi setiap jiwa, perbuatan baik maupun buruk dan yang mengatur seluruh alam semesta. Tidak ada yang bisa meghalangi apa yang Dia berikan dan tidak ada yang bisa yang menolak ketetapaNnya.
Bagai orang-orang makrifat, menucapkan alhamdulillahi rabbil alamin berarti kembali kepada Allah. Ketika mereka menemukan sesuatu yang indah, lalu memujinya, maka pujian itu kembali kepada Allah sebagai Dzat yang menciptakan sesuatu tersebut. Allahlah yang berhak di puji, bukan ciptaanNya.
Ketika mengucapkan kalimat tersebut, mereka menemukan keteguhan hati, perbaikan, pendidikan, kekuasaan dan kepemimpinan. Karena kelima hal ini merupakan makna dari kata Rab. Artinya, Allah yang memberi keteguhan, yang memperbaiki, dan yang mendidik. Allah pula yang menguasai dan membimbing mereka ke arah yang benar.
الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Bacaan ini akan menuntun Mushalli (orang yang shalat) bahwa Allah swt. Maha Pemurah dan Penyayang. Kemurahan-Nya diberikan kepada seluruh makhluk, berupa segala anugerah dan kenikmatan. Keluasan rahmatNya meliputi segala sesuatu.
Bagi orang awam, rahmah (kasih sayang) itu diberikan sesuai dengan tujuannya dan merupakan sesuatu yang selalu menyenangkan. Sedangkan bagi orang makrifat, rahmat itu di-berikan dalam bentuk yang tidak disukai. Seperti minum obat yang pahit, namun kepahitan obat itu dapat menyembuhkan penyakit.
Apabila orang makrifat mengucapkan kalimat ini, mereka menemukan bukti bahwa Allahlah yang berhak menyandang sifat ar-rahmah (penyayang). Dia pula yang paling dibutuhkan seluruh hambaNya karena sifat tersebut. Mereka pun memahami bahwa rahmat Allah di dunia ini hanya satu, dan itu diberikan kepada seluruh makhluqNya, baik yang taat maupun yang jahat, yang muslim maupun yang kafir.
Jika telah kiamat, maka rahmat yang satu itu dicabut dan digabungkan dengan 99 rahmat lainnya sehingga jumlahnya menjadi 100. Rahmat inilah yang akan diberikan kepada hambaNya yang taat beribadah. Rahmat inilah yang menjadi tumpuhan harapan mereka. Ketika shalat, bacaan ini sungguh menenteramkan hati mereka, dan menimbulkan semangat dalam beribadah.
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ .
Yang menguasai hari pembalasan.
Mengucapkan ayat ini berarti meyakini dan menyaksikan Penguasa yang Hak. Dimana semua makhluk tawadhu' kepada-Nya, semua wajah menunduk di hadapanNya. Semua yang paling besar dan yang paling kuat bertekuk lutut di bawah keagunganNya.
Hari pembalsan, yaitu hari dimana manusia menerima balasan atas perbuatanya. Yang baik dibalas baik dan yang buruk dibalas buruk. Dan Allah lah yang Maha menentukan balasannya. Hanya Dia yang bisa memberi balasan seadil-adilnya. Yaumiddin juga disebut yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya.
Ini adalah sifat Sang penguasa sejati; Allah lah Dzat yang memerintah dan yang melarang. Dia pula yang membalas pahala maupun siksa. Di hari itu Allah bertindak sebagai hakim yang paling adil, sedikitpun tidak berbuat dzalim terhadap hamba-hambaNya.
Bagi orang makrifat, pembalasan itu tidak hanya berlaku di akhirat, tapi juga di dunia. Manusia yang berbuat dosa akan merasakan kepedihan hati, dan mengalami berbagai kesulitan. Ini adalah akibat perbuatannya. Sedangkan mereka yang taat, selalu merasa bahagia dan mendapatkan banyak kemudahan.
Itulah sebabnya, ketika mereka shalat dan membaca ayat ini, hatinya diliputi ketakutan atas dosa-dosa yang belum terampuni. Akhirnya mereka memohon ampun kepada Allah. Kalaupun ada amal kebaikan yang diterima, mereka pun berharap mendapat balasan yang terbaik.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.
(Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan).
Ayat ini menegaskan pentingnya ikhlas dalam beribadah, dan tidak menyekutukan Allah dengan yang lain. Ikhlas juga diartikan ibadah secara totalitas, meliputi seluruh organ tubuh, lahiriyah maupun batiniyah. Lalu meminta pertolongan kepada Allah agar bisa menjalankannya. Jika mushali (orang yang shalat) belum bisa beribadah demikian, maka ucapannya iyyakana 'budu waiyyakanasta'in adalah bohong. Ketika ia membaca ayat ter-sebut, maka Allah memandangnya. Namun, bila ia berpaling atau disibukkan dengan pikiran-pikiran duniawi, Allah pun berpaling darinya karena ia dianggap pendusta.
Bagi orang makrifat, ayat tersebut sungguh merupakan pernyataan yang penuh tanggungjawab dalam beribadah. Ketika membaca ayat ini, hati mereka bergetar dan tubuhnya menggigil karena takut diangap sebagai pendusta. Karenanya, mereka berusaha mewujudkan pernyataan tersebut sejak takbiratul ihram hingga salam.
Kesungguhan dalam beribadah dapatlah dibuktikan jika kita memahami sekaligus meresapi secara lahir maupun batin setiap gerakan dan bacaan shalat.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ .
Tunjukkan kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan yang Engkau murkai dan sesat.
Orang yang shalat hendaknya berdoa agar ibadah yang dilakukan itu dapat mencegahnya dari perbuatan mungkar. Jika sebelum shalat ia masih suka berbuat maksiat, maka setelah shalat diharapkan kebiasaan buruk tak ada lagi. Inilah yang disebut hidayah. Jika setelah shalat masih belum ada perubahan. berarti ia tidak serius ketika membaca ayat tersebut.
Ketika orang marifat mengucapkan ihdina (tunjukkanlah kami), ia meyakini bahwa Allah itu al-Hadi (Yang Maha Pemberi Petunjuk), lalu ia memohon petunjuk kepadaNya agar ditun-jukkan ke jalan yang benar, juga diberi kekuatan untuk bisa berjalan di atasnya. Jalan itu adalah syariat yang telah digariskan dalam Al-Quran dan sunah Nabi saw.
Hidayah itu sangat penting bagi kehidupan kita. Bayangkan jika tidak ada petunjuk, tentu hidup ini terasa gelap gulita. Kita seperti berjalan di tengah malam tanpa cahaya. Oleh sebab itu, saat membaca ayat ini berdoalah (dalam hati) dengan sungguh-sungguh, sehingga hidayah itu betul-betul kita dapatkan seusai shalat.