Duduk di antara dua sujud atau duduk iftirasy, adalah rukun pemisah dua sujud. Posisinya yakni duduk di atas telapak kaki kiri, kaki kanan tegak dan jari-jarinya dilekatkan (ditekan) ke bumi menghadap ke arah kiblat (Fathul Qarib 1:101).

Jika seorang hamba telah berdiri memberikan pujian dan sanjungan, kemudian rukuk mensucikan dan mengagungkan Tuhannya, lalu iktidal sembari pujian dan sanjungan kepadaNya, dan disempurnakan dengan sujud yang merupakan sikap tunduk dan pasrah kepadaNya, maka ia tinggal meminta segala kebutuhan serta ampunanNya.

Rabbighfirlii (ya Allah ampunilah aku). Kita tidak pernah tahu seberapa besar dosa ini, apakah dosa yang pernah dilakukan tersebut sudah dihapus. Ketika duduk iftirasy itulah kita berkesempatan untuk intopeksi diri, lalu memohon ampunan dari dosa yang mungkin kita lupakan. Di situ pula kita diharapkan menyadari bahwa kita ini tempatnya salah dan berbuat dosa. Jika kita menyadari dosa dengan sungguh-sungguh, maka dosa sekecil apapun akan kita anggap sebagai dosa besar.

Warhamnii (kasihani-lah aku ya Allah). Kita manusia pada dasarnya hanyalah makhluk lemah. Jika bukan karena Allah kita bukanlah apa-apa. Maka tunduk dan memohon rahmatNya adalah cara yang paling tepat.

Ibadah yang kita lakukan tidak akan pernah cukup untuk menghapus dosa-dosa dan menebus segala kenikmatan yang kita terima. Ibadah itu tidak akan mampu membuka pintu surga. Kalau kita mendapat ampunan, selamat dari siksa neraka dan di masukkan ke surga, itu semua berkat rahmat Allah SWT. Maka sudah seharusnya kita memohon rahmatNya.

Wajburnii (cukupkan-lah aku ya Allah, tutupi aib hamba ya Allah, tutupi kesalahan-kesalahan hamba ya Allah). Manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa cukup atas nikmat yang diterima dari TuhanNya. Misalnya dia telah mendapatkan satu gunung emas, tentu masih tetap mencari gunung emas yang lain, sebelum mulut dan perutnya ditutup dengan tanah (kematian).

Keserakahan inilah yang menyebabkan manusia sering berbuat salah. Sifat buruk ini haruslah dihentikan ketika duduk diantara dua sujud. Maka berdo’alah agar kita selalu merasa dicukupkan oleh Allah sehingga terhindar dari penyakit hati, cinta duniawi yang menyengsarakan.

Warfa’ni (angkatlah derajatku ya Allah, dekatkan aku kepadaMu ya Allah). Sungguh tidak ada keinginan yang patut kita dapatkan kecuali Allah mengangkat derajat kita. Keinginan inilah yang menjadi target utama kekasih Allah.

Mungkin selama ini kita mendapat kehormatan di mata manusia. Lalu melupakan derajat tinggi dari sisi Allah. Ini adalah kesalahan fatal, karena derajat dunia hanya sementara. Sedangkan derajat pemberian Allah akan kekal abadi hingga di akhirat.

Warzugnii (berilah aku rezeki yang halal, ya Allah). Duduk di antara dua sujud memberi kesempatan kita untuk memohon rezeki yang halal, cukup, dan berkah. Rezeki memang sudah ditentukan jauh sebelum manusia lahir. Namun bila kita menginginkan kelebihan rezeki, hendaknya berdo’a dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah mengabulkan.

Wahdinii (berilah aku petunjuk, ya Allah). Di setiap manusia melekat takdir baik dan buruk. Sebagai manusia yang lemah hendaknya kita meminta petunjuk kepada yang Maha memberi petunjuk, yaitu Allah SWT. Orang yang mendapat petunjuk akan lebih memandang sesuatu itu menggunakan mata hatinya. Sedangkan orang yang dijauhkan Allah dari petunjukNya hanya akan melihat dengan mata sedangkan mata hatinya menjadi buta.

Wa’afinii (sehatkan hambamu ini, ya Allah). Kesehatan adalah salah satu nikmat yang tak ternilai harganya. Ketika seseorang sakit, hartanya mejadi habis untuk biaya pengobatan. Jika kita mempunyai tubuh sehat, maka akan dapat melakukan berbagai aktivitas. Karena itulah ketika duduk iftirasy, kita diajarkan untuk memohon kesehatan jasmani dan rohani kepada Allah SWT.

Wa’fuannii (apabila hamba terlalu banyak meminta, maka ampunilah aku ya Allah). Kita sering kali melakukan kesalaha namun sering kali kurang menyadarinya. Kita sering memikirkan kesalahan orang lain, sedangkan kesalahan sendiri terlupakan. Kita juga sering meremehkan dosa kecil, karena menganggap Allah Maha Pengampun tanpa kita menyadari kesalahan dan memohon ampunan-Nya. Maka duduk iftirasy adalah momen yang tepat untuk menghapus kesalahan yang terlupakan.

Gerakan duduk iftirasy dilakukan dengan cara menduduki telapak kaki kiri, sedangkan untuk rakaat terakhir ujung kaki kiri dikeluarkan ke sebelah kanan, kemudian kaki kanan ditegakkan dan jari-jarinya diarahkan ke kiblat (Abu Humaid As-Sa’idi: HR. Bukhari).

Ketika seseorang telah menyempurnakan rukuk, sujud, bacaan Al-Quran, tasbih dan takbirnya, maka barulah duduk di akhir shalatnya dengan penuh kekhusyukan, merendah dan menunduk pasrah dalam keadaan berlutut. Ini penghormatan yang paling sempurna dan paling utama kepada Allah SWT.