Shalat dimulai dengan bacaan takbiratul ihram. Kalimat takbir yang wajib diucapkan adalah "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar) bersamaan dengan mengangkat kedua tangan. “Tidak sempurna shalat seseorang sampai ia berwudhu, lalu ia membasuh air wudhu pada tempat-tempatnya, lalu ia berkata Allahu Akbar”. HR. Abu Dawud 857, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abi Daud.

Takbiratul ihram harus diucapkan dengan lisan, tidak boleh hanya dibaca dalam hati. Muhammad Ibnu Rusyd berkata, "Adapun seseorang yang membaca dalam hati, tanpa meng-gerakkan lidahnya, maka hal itu tidak disebut dengan membaca. Karena yang disebut dengan membaca adalah dengan melafalkannya di mulut".

Mengucapkan takbir ini merupakan isyarat bahwa meng-hadap kepada Allah itu lebih penting dari dunia dan isinya. Lebih penting dari semua aktivitas lainnya. Di dalamnya mengandung makna pengakuan terhadap kemahabesaran Allah, juga peringatan agar mushalli (orang yang shalat) menghilangkan sifat takabur dan merendahkan diri di hadapanNya. Orang yang merendahkan diri di hadapanNya justru akan diangkat derajat-nya.

Allahu Akbar, maksudnya: Allah SWT, Maha besar dari yang dapat kita bayangkan, Maha Besar dari seluruh tuhan lain yang disembah manusia, Maha Besar dari seluruh kekuatan dan kekuasaan yang paling berkuasa sekalipun, Dzat yang dijadikan sandaran sekaligus tempat bergantung bagi manusia.

Setiap orang yang mengetahui lalu berupaya mengaplikasi-kan makna takbir dalam kehidupannya niscaya akan merasakan adanya kekuatan luar biasa dalam dirinya. Ia merasa yakin bahwa dirinya berpijak di atas landasan yang kukuh, aman, dan menjanjikan kebahagiaan.

Bagi yang menginginkan khusyuk dalam shalat, maka kunci-nya ada pada takbiratul ihram. Takbir dengan mengucakan Allahu akbar, merupakan pernyatan penyerahan diri secara totalitas dan pengagungan yang sebenar-benarnya.

Takbiratul ihram adalah momentum paling menentukan dalam shalat, sebab saat itu niat shalat disematkan. Bisa dikatakan, takbiratul ihram merupakan pintu masuk alam batin untuk bermunajat kepada Allah. Kalimat takbir sama denga bacaan talbiyah "Labbaika Allaahumma Labbaik" (Ya Allah ini aku ya Allah), yang antusias memenuhi seruanMu, sepenuh jiwaku untuk melaksanakan ibadah shalat.

Dengan mengucapkan takbiratul ihram berarti kita meng-haramkan segala hal yang tadinya boleh menjadi tidak boleh. Misalnya makan, bicara apa pun, menoleh kesana kemari, meng-hadap kemana pun sesuka hati, bergerak bebas, dan lain-lain.

Mengucapkan takbir harus dengan kalimat Allahu Akbar, tidak boleh memanjangkan huruf hamzah washal pada lafadz Allah. Karena A yang dipanjangkan akan menjadi istifham (kata tanya) dalam bahasa Arab yang maknanya "apakah." Jadi kalimat di atas memiliki makna "apakah Allah Maha Besar?" Suatu kesalahan yang besar. Dalam mengucapkan takbir harus satu kesatuan, artinya tidak diputus satu dengan yang lainnya. Misalnya mengucapkan Allah, berhenti, kemudian mengucapkan Akbar.

Setelah melakukan takbiratul ihram, selanjutnya kita disunahkan membaca doa iftitah. Dikatakan iftitah karena merupakan doa yang pertama kali dibaca setelah takbiratul ikhram. Mengenai bacaan doa iftitah yang dicontohkan Nabi bermacam-macam. Tapi yang pasti, dalam doa tersebut beliau mengucapkan pujian, sanjungan, dan kalimat yang mengagung-kan Allah.

Meskipun tidak wajib namun sangat dianjurkan (sunah muakad), sebagaimana keterangan dalam hadis, "Tidak sem-purna shalat seseorang sebelum dia bertakbir, memuji Allah azza wa jalla, menyanjungnya, dan membaca ayat-ayat Al-Quran yang dihafalnya." HR. Abu dawud dan Hakim.

Di antara doa iftitah adalah sebagai berikut:

الله أكبر كبيرا والحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً
وَاصِيلًا إِنِّي وَجَهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ .

Allah Maha Besar lagi sempurna KebesaranNya, segala puji bagiNya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore. Kuhadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan memberi keselamatan dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi Nya dan dengan itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukanNya. Dan aku dari golongan orang muslimin.

Ketika shalat, kita sedang berdiri menghadap kepada Dzat yang Maha Kuasa, yang menciptakan langit, bumi dan seluruh alam semesta. Kita berkhidmat kehadirat Tuhan yang kekuasaanNya tak sanggup dibayangkan. Kita harus dapat menjaga sikap yang santun dan tawadhu.

Sesungguhnya, shalat itu merupakan ibadah hati, ibadah pikiran dan ibadah anggota badan. Maka, ketika shalat hendaknya memusatkan pikiran pada bacaan dan gerakan dan memusatkan hati hanya kepada Allah. Hal-hal yang membuat kita berpaling dariNya hendaknya disingkarkan.

Di saat mengucapkan kalimat laa syariikalahu (Tiada sekutu bagiNya) hati harus betul-betul bersih dari segala macam kemusyrikan. Shalat kita hanya karena Allah, bukan karena makhluk. Jika kita shalat karena makhluk berarti kita telah menyekutukan Allah, dan riya termasuk syirik asghar (kecil).

Dalam pandangan orang makrifat, taujih adalah suatu ke-adaan, dari suatu keadaan, ke suatu keadaan. Artinya, dari Allah, dengan Allah, kepada Allah, bersama Allah, di dalam Allah, milik Allah dan atas Allah. Dari Allah adalah permulaan, dengan Allah adalah pertolongan dan peneguhan, kepada Allah adalah tujuan, bersama Allah adalah persahabatan serta pengawasan, dan atas Allah adalah tawakal atau bersandar.