Inti dari menghadap kiblat adalah arah yang telah ditentukan Allah, yaitu Ka’bah bangunan suci umat Islam yang ada di Bakkah (Makkah) yang di berkati dan menjadi petunjuk bagi manusia, QS. Ali Imran 96.

Mengapa harus menghadap kiblat dan mengapa harus ada thawaf? Ketika mempelajari kaidah tangan kanan (hukum alam), bahwa putaran energi jika bergerak berlawanan arah jarum jam maka arah energi akan naik ke atas. Arah energi ditunjukkan oleh arah 4 jari dan arah ke atas ditunjukkan oleh arah jempol. Energi shalat dari individu atau jamaah seluruh dunia akan terkumpul dan terakumulasi di Ka’bah setiap saat. Energi tersebut kemudian diputar oleh generator orang-orang yang thawaf menuju ke arah langit, ibarat cerobong yang mengarahkan energi shalat seluruh umat Islam menuju kehadirat Allah SWT.

Umat Islam diperintah menghadap Ka’bah sebagai syarat sahnya shalat, bukan menyembahnya, tetapi menyembah Allah yang tidak terikat dengan tempat, ruang dan waktu, melainkan mengetahui semua tempat, ruang dan waktu. Secara spiritual, menghadap kiblat bertujuan untuk membimbing umat islam agar senantiasa menghadapkan diri kepada Allah dengan seluruh jiwa-raga, menyatukan hati dengan Allah SWT sekaligus menyadari pengawasan-Nya.

Menghadap kiblat juga untuk mengingat kisah nabi Ibrahim, ketika meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di sebuah lembah yang gersang, Allah telah menjaga mereka. Di dalamnya terdapat makna kesabaran dan ketersambungan kepada Allah SWT.

Ketika seorang muslim benar-benar menghadap kiblat, dia merasa tak punya ruang dan waktu kosong tanpa pengawasan Allah, sehingga tak ada kesempatan untuk berbuat maksiat maupun keburukan. Seolah Allah SWT senantiasa hadir dan mengetahui semua perilaku dan tindakannya.

Makna mengangkat tangan dalam shalat pada pandangan orang makrifat, Allah memerintahkan demikian seolah berkata, “Jika engkau berdiri di hadapan-Ku, bersikaplah serperti orang fakir (orang yang membutuhkan), tanpa memiliki sesuatu apapun. Segala sesuatu yang Aku kuasakan kepadamu, lepaskanlah! Berdirilah dengan tangan kosong dan letakkan tanganmu, karena Aku ada dalam hatimu”.

Seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw. Beliau mengangkat tangan dan ditunjukkan ke arah kiblat untuk membuktikan bahwa Beliau bertangan kosong. Ketika menurunkannya, Beliau membalikan telapak tangan ke belakang, seolah-olah melemparkan sesuatu dari tangannya. Seolah-olah menunjukkan kepada Allah bahwa beliau meninggalkan sesuatu yang seharusnya ditinggalkan. Menghadap sebagai seorang fakir yang sangat membutuhkan Allah sebagai Sang Maha Pemberi.

Gerakan ini tentu saja harus disertai hati yang kosong dari urusan duniawi. Jika dalam hati masih ada hubbuddunnya (cinta dunia), maka gerakan yang mulia ini tidak akan bermakna.

Sungguh tidak pantas, ketika mengangkat tangan terbuka, tetapi pikiran kita masih merasa memiliki dunia. Di hadapan Allah kita tak memiliki apa-apa, karena yang ada pada diri kita hakikatnya adalah milik Allah SWT.