Sholat merupakan puncak pertemuan seorang hamba menuju Tuhan. Dengan sholat, seorang hamba bisa menyatukan diri, bermunajat menikmati kerinduan dengan sang Kekasih. Seorang hamba bermusyahadah atau mukhasafah, dalam penyaksian dan penglihatan terhadap Dzat Allah SWT.

Ketika seseorang bermakrifat melakukan shalat, batinnya telah mencapai mikraj. Sehingga tidak ada lagi hijab atau penghalang antara dirinya dengan Allah. Mereka tidak menyembah kekosongan, melainkan melihat Dzat Allah dan merasakan dirinya dilihat oleh Allah SWT. Sehingga Ia merasa tenang, nikmat, dan bahagia ketika bisa bermesraan dengan sang Kekasih.

Pesan Sunan Bonang dalam Suluk Wujil, “Manakah yang disebut shalat yang sesungguhnya? Janganlah menyembah bila tidak tahu siapa yang disembah. Akhibatnya akan direndahkan martabat hidupmu. Seperti seseorang yang menyumpit burung. Pelurunya disebar, tetapi tidak ada satupun yang kena. Jadinya cuma menyembah adam sarpin (kekosongan) yang tiada berguna.”

Dalam tingkatan ibadah, ada golongan orang alim dan orang arif (makrifat). Orang alim mengenal tuhan dengan logika, sebatas percaya dan sekedar terucap di bibir saja. Sedangkan orang arif mengenal Tuhannya melalui penyaksian (musyahadah) dan memahami Tuhannya dengan kecerdasan batin/spiritual. Syahadatnya tidak hanya terucap, tetapi telah dibuktikan. Segala aktivitas dan perbuatannya adalah sholat, baik disaat berdiri, duduk, bahkan tidur nyenyak.

Di dalam shalat mengandung seluruh tahapan perjalanan menuju Tuhan. Bagi orang makrifat, wudhu bermakna taubat, menghadap kiblat bermakna keberuntungan, berdiri bermakna diamnya diri, membaca ayat Al-Quran bermakna dzikir, rukuk bermakna kerendahan hati, sujud bermakna pengetauhan diri, membaca syahadat bermakna kemesrahan dengan Tuhan dan salam bermakna memisahkan diri dari dunia, (Al-Hujwiri).

Setiap ucapan dalam shalat mengarah kepada penyaksian kepada Allah, yaitu mengimani, berserah diri, bertaubat, bersabar, ridha, takut, berharap, bersyukur, mencintai, bertawakal dan semua itu merupakan tingkatan keyakinan, (Abu Thalib Al Maki). Saat bertakbir, kalimat “Allahu Akbar” harus diresapi dalam hati, sehingga tidak ada lagi yang lebih besar dari Allah SWT. Bacaan do’a iftitah, tentang penyerahan diri secara total kepada Allah, sehingga bisa melupakan dunia dan akhirat sejenak, hanyut dalam kebesaran-Nya, (Abu Said al-Kharaz). Sedangkan bacaan al-Fatihah dan do’a sujud, semua unsur keyakinan diatas melebur menjadi satu.

Shalat adalah symbol, gambaran seluruh kehidupan seseorang. Melalui shalat, kita mendapatkan cahaya petunjuk yang akan membimbing kehidupan kita, (Jalaludin Rumi). Shalat juga bermakna perbaikan diri. Dengan shalat kita bisa membersihkan batin dari kotoran nafsu duniawi dan menuntun raganya menuju kebaikan. Shalat juga sarana untuk mengadukan persoalan kehidupan.

Shalat merupakan wujud penghambaan diri kepada Allah SWT. Shalat adalah penyempurna jiwa, sumber kemuliaan, dan tolak ukur perbuatan sehingga Allah menjadi ridha. Dengan shalat seorang hamba akan memperoleh derajat yang tinggi. Shalat merupakan pondasi spiritual sebagai tiang agama.

Syeh Abdul Qadir Jailani, orang yang shalat berarti sedang bermunajad kepada Tuhannya. Tempat munajat ada di qalbu (hati). Jika hatinya lupa, maka rusaklah shalatnya. Dan shalat terbagi menjadi dua, shalat syariat: ada waktunya 5 kali sehari, disunahkan di masjid, harus menghadap kiblat, mengikuti imam dan tidak boleh riya’. Sedangkan shalat thariqah: adalah dzikrullah sepanjang hidup. Masjidnya adalah qalbu, imamnya adalah spirit qalbu (fuad), jamaahnya adalah perkumpulan kekuatan batin yang terus menerus mengingat Allah. Kiblatnya adalah al-hadhrah al-hadiyah. Qalbu dan ruh tidak pernah mati dan tidak tidur, tetapi sibuk dengan dzikrullah sepanjang zaman. Jika shalat syariat dan thariqah telah berpadu secara lahir dan batin, maka sempurnalah shalatnya.